biologi rasa syukur
bagaimana berterima kasih mengubah kimia otak
Pernahkah kita terbangun di pagi hari, dan hal pertama yang lewat di kepala adalah daftar panjang masalah yang harus diselesaikan hari itu? Tagihan yang belum dibayar, email bos yang menyebalkan, atau sekadar rasa cemas yang mengambang tanpa sebab yang jelas. Saya rasa kita semua pernah berada di fase itu. Saat pikiran sedang ruwet, lalu ada teman yang bilang, "Sudahlah, banyak-banyak bersyukur saja," rasanya wajar jika kita ingin melempar sepatu ke arahnya. Nasihat itu sering kali terdengar seperti toxic positivity. Terkesan meremehkan masalah. Namun, mari kita kesampingkan sejenak petuah-petuah motivasi klise. Bagaimana jika saya memberi tahu teman-teman bahwa bersyukur sebenarnya bukanlah konsep moral atau spiritual semata? Bagaimana jika ucapan "terima kasih" yang tulus sebenarnya adalah alat peretasan biologis yang sangat canggih? Ya, kita sedang membicarakan hard science.
Untuk memahami mengapa bersyukur itu terasa sangat sulit saat kita sedang stres, kita harus mundur sedikit. Tepatnya, mundur sekitar ratusan ribu tahun yang lalu ke zaman prasejarah. Otak manusia purba tidak dirancang untuk kebahagiaan. Otak kita dirancang untuk satu tujuan mutlak: bertahan hidup. Nenek moyang kita tidak selamat dari seleksi alam karena mereka rajin mengagumi indahnya matahari terbenam. Mereka selamat karena mereka selalu waspada terhadap harimau bergigi pedang yang bersembunyi di balik semak-semak. Ini yang dalam psikologi evolusioner disebut sebagai negativity bias atau bias kelalaian. Otak kita ibarat velcro untuk pengalaman buruk, tetapi seperti teflon untuk pengalaman baik. Kita adalah keturunan langsung dari primata-primata purba yang paling cemas dan paling paranoid. Jadi, jika hari ini teman-teman merasa lebih mudah mengingat satu kritikan tajam daripada sepuluh pujian, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Itu bukan berarti kita pesimis. Itu hanya sistem operasi bawaan pabrik kita yang sedang bekerja.
Lalu, di sinilah muncul sebuah konflik yang menarik. Jika otak kita memang sudah diprogram dari sananya untuk selalu mencari ancaman dan memikirkan hal-hal buruk, apakah kita terjebak selamanya dalam kecemasan? Di sinilah para ilmuwan saraf mulai penasaran. Mereka mengamati kelompok orang yang secara konsisten mempraktikkan rasa syukur. Hasilnya membuat para peneliti mengangkat alis. Kelompok ini tidak hanya melaporkan suasana hati yang lebih baik. Tekanan darah mereka turun. Kualitas tidur mereka meningkat drastis. Bahkan, tingkat peradangan dalam sel tubuh mereka menurun. Ini bukan sekadar sugesti psikologis. Ada sebuah mesin rahasia yang mendadak menyala di dalam tengkorak manusia ketika mereka memikirkan hal-hal yang mereka syukuri. Pertanyaannya, sihir kimiawi macam apa yang sebenarnya terjadi di balik lipatan abu-abu otak kita saat kita mengucapkan terima kasih?
Mari kita bongkar rahasia terbesarnya. Saat kita secara sadar mencari sesuatu untuk disyukuri, otak kita meresponsnya sebagai sebuah penghargaan. Momen ini memicu pelepasan dua neurotransmitter utama: dopamin dan serotonin. Dopamin adalah molekul kesenangan dan dorongan. Saat dopamin mengalir, otak kita berkata, "Ini terasa menyenangkan, ayo lakukan lagi." Sementara itu, serotonin adalah molekul kedamaian yang mengatur suasana hati dan kemauan kita untuk terhubung dengan orang lain. Namun, temuan yang paling menakjubkan ada pada konsep neuroplasticity atau neuroplastisitas. Otak kita itu hidup dan bisa berubah bentuk. Ada sebuah prinsip terkenal dalam ilmu saraf: neurons that fire together, wire together (neuron yang menyala bersama, akan terhubung bersama). Ketika kita rutin mempraktikkan rasa syukur, kita secara fisik mengaktifkan area medial prefrontal cortex, bagian otak yang mengatur pembelajaran dan pengambilan keputusan. Semakin sering kita bersyukur, semakin tebal dan kuat jalur saraf positif di otak kita. Kita tidak sedang berpura-pura bahagia. Kita secara harfiah sedang mengubah rute jalan tol di dalam otak kita sendiri. Kita mengubah otak yang tadinya ahli mencari ancaman, menjadi otak yang ahli mencari peluang dan kebaikan.
Pada akhirnya, memahami biologi rasa syukur memberi kita sebuah kelegaan yang luar biasa. Bersyukur bukan berarti kita buta terhadap penderitaan atau ketidakadilan di dunia. Bersyukur juga bukan berarti kita tidak boleh marah atau sedih. Bersyukur hanyalah cara kita memberi tahu tubuh dan otak kita bahwa, di tengah segala kekacauan ini, kita masih aman. Kita sedang melatih otot otak yang selama jutaan tahun jarang digunakan oleh nenek moyang kita. Memulai latihan ini tidak perlu muluk-muluk. Malam ini, sebelum tidur, mari kita coba ingat satu hal kecil saja yang berjalan baik hari ini. Mungkin rasa kopi yang pas tadi pagi, atau jalanan yang kebetulan tidak terlalu macet. Rasakan momen itu sebentar saja. Saat kita melakukannya, ingatlah bahwa kita tidak sekadar sedang merenung. Kita sedang memutarbalikkan jutaan tahun evolusi, menyuntikkan antidepresan alami ke dalam aliran darah, dan merakit ulang anatomi pikiran kita. Dan untuk kemampuan luar biasa yang tersembunyi di dalam kepala kita ini, rasanya sangat pantas jika kita mengucapkan: terima kasih.